Transsulawesi.com, Batui -- Kepergian Ustadz Ismail Syahril ke Rahmatullah membawa duka mendalam terlebih untuk masyarakat Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Da’i tangguh dan pejuang tauhid meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Jakarta, Ahad sore pukul 15.30 WIB.
Sepanjang hidupnya ia dikenal sebagai aktivis dakwah yang gigih berdakwah dan membimbing umat. Kiprah dakwah dan perjuangannya menyebar di penjuru Kabupaten Luwuk Banggai Sulawesi Tengah.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyebut beliau sebagai salah satu kader terbaik Wahdah Islamiyah.
Selain sering mengajak masyarakat Batui kejalan yang baik, ustadz Ismail dikenal sebagai pegiat dakwah pedalaman. Ratusan suku terasing di pedalaman Batui dan Moroali Utara telah beliau Islamkan. Hutan ia susuri, sungai ia sebrangi, bahkan pernah terjebak arus deras sampai hampir tenggelam.
Diantara jejak warisan sang pejuang juga kader penuntut ilmu, calon da’i dan da’iyah yang beliau utus belajar ke berbagai pesantren dan perguruan tinggi Islam di Makassar, Surabaya, Bekasi, dan Jakarta. Beliau tidak hanya mengutus mereka belajar, tapi berperan sebagai donator dan fundriser untuk biaya studi mereka.
Ustadz Ismail Syahril tidak hanya berdakwah lewat ceramah, khutbah, dan majelis ilmu. Tapi beliau juga sering terjun dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan. Beliau memang dikenal sebagai aktivis dakwah multi talenta yang tak kenal lelah. Karena semua aktivitas hidupnya Lillah, untuk karena dan demi Allah.
Sebagai da’i Ustadz Ismail juga dikenal memiliki obesesi tinggi, pantang menyerah, bermental baja, dan penuh ide kreatif untuk memajukan dakwah dan perjuangan. Karakter luhur ini Nampak ketika beliau merintis pendirian Sekolah Dasar Islam di Batui.
Beliau membangun sekolah SD Wahdah di sana (Batui). Dengan modal keyakinan kepada Allah beliau mau membangun sekolah. Diutarakan lah hal itu kepada istrinya tapi istrinya tidak yakin akan rencana nya.
Dikarenakan modal untuk membangun sekolah tidak ada. Jangankan bangunan dari batu bata, bangunan dari kayu pun beliau tidak bisa beli. Tapi ia tidak kehabisan akal. Caranya dia mencicil di toko bangunan kayu untuk dipakai membangun satu kelas.
Bahkan cita-citanya untuk mendirikan lembaga pendidikan, tidak hanya sampai tingkat SD. Ia bercita-cita mendirikan perguruan tinggi Islam sebagai lembaga kaderisasi da’i.
Ustadz Ismail juga dikenal sebagai sosok yang inspiratif. Beliau menginspirasi lewat sikap, kesungguhan di jalan dakwah dan perjuangan serta melalui kata-kata motivasi kepada para murid dan teman sesama aktivis dakwah.
Boleh jadi kalimat inilah yang menjadi salah satu prinsip beliau sehingga beliau rela berlelah-lelah di jalan dakwah dan perjuangan. Membina ummat, menebar dakwah tauhid, mendirikan sekolah, menyusuri pedalaman Batui dan Moroali, mengarungi Sungai, menghantar hidayah kepada umat. (mhr/al-wahdah)